Bacaan Ringan Soal Instruktur KAMMI


Saat diminta menulis sebuah artikel tentang instruktur, saya tak tahu harus menulis apa. Bingung. Saya tak tahu juga kenapa dulu bisa didaulat sebagai instruktur. Mungkin bagi sebagian orang saya termasuk tipikal instruktur yang tak banyak berkutat pada analisis tajam sebuah materi. Tak banyak teori-teori yang saya sampaikan. Tak banyak ayat al Quran yang menjadi dalil saya utarakan.

Saya ingat saat mengikuti Daurah Marhalah (DM) 1 KAMMI UNY. Waktu itu tahun 2006, tahun pertama saat saya masuk kuliah. DM berlangsung di pelosok Gunung Kidul, dengan fasilitas amat minim. Tidak bisa main twitteran, posting di grup Whats app, komen di Facebook, atau cek in Foursquare. Semua itu tidak bisa saya lakukan karena memang waktu itu belum ada dan belum ngetrend hal-hal semacam itu.

Waktu itulah saya terpesona –lebay dikit- dengan instruktur-instruktur DM yang membuat pemahaman baru dalam benak saya. Sebuah pemahaman sebagai seorang aktivis.

Instruktur bukanlah sekumpulan teori kaku. Bukan ensklopedia. Bukan rumus-rumus matematis. Peran instruktur tak hanya menjejalkan berbagai macam pengetahuan kepada para peserta. Tapi lebih dari itu, yaitu menumbuhkan kesadaran dan menginspirasi.

Materi DM, terutama materi Islam, Pemuda dan Perubahan Sosial (IPPS) –yang seringkali saya bawakan- bukanlah materi yang ‘penuh referensi dan ilmiah dengan kerangka metode penelitian kualitatif ataupun kuantitatif’. IPPS bukan kuliah teori perubahan sosial. IPPS juga bukan presentasi teori gerakan sosial. Di dalamnya memang harus diberikan teori dan pengetahuan, tapi lebih dari itu bahwa materi ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran sebagai pemuda untuk bergerak.

Saya yakin bahwa setiap orang pastilah mengetahui berbagai macam fenomena sosial yang memprihatinkan. Mereka melihatnya di televisi, membacanya di koran bahkan kadang kala menyusun makalah dan mempresentasikannya di dalam ruang kelas. Apabila materi IPPS pun hanya sekadar mengikuti alur tersebut maka tidak ada perbedaan mencolok antara DM dan ruang kuliah. Mahasiswa yang mengikuti DM, terutama DM 1, tak sekadar membutuhkan pengetahuan, tapi mereka juga membutuhkan inspirasi.

DM bukanlah short course ataupun seminar, tapi ia adalah sebuah agenda yang disusun sedemikian rupa dengan tujuan memberikan pengalaman dan menanamkan kesadaran mahasiswa untuk “berbuat dan bergerak.” Perubahan bisa dicapai dengan perbuatan yang selalu didahului dengan berpikir. Tetapi perbuatan dimulai dengan harapan. Dan harapan dihidupkan oleh inspirasi.

Mengubah cara pandang

Sebuah fenomena yang sama akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dari setiap orang. Hal ini disebabkan ada perbedaan sudut pandang dalam melihat dan menganalisis fenomena tersebut. Perbedaan cara pandang atau perbedaan persepsi inilah yang menentukan sikap seseorang.

Materi IPPS menampilkan realitas sosial dan kemudian berdialektika dengannya. Dialektika ini harus dikembangkan dalam suasana DM hingga menghasilkan satu kesadaran bersama diantara peserta DM. Kesadaran sebagai pemuda yang merupakan aktor perubahan sosial, yaitu pemuda sebagai pengusung perubahan, generasi penerus perbaikan dan generasi pengganti masyarakat.

Memunculkan kesadaran tidak bisa dengan menyajikan berbagai masalah sosial semata namun harus diberikan pemahaman soal cara memandang sebuah masalah. Perubahan cara pandang ditambahkan dengan inspirasi akan memunculkan kesadaran. Dari kesadaran akan timbul –minimal- pemikiran untuk bergerak. Akan muncul dan para mahasiswa dipaksa memunculkan gagasan yang riil sebagai solusi dan dasar dalam melakukan perubahan sosial. DM KAMMI tidak untuk mencetak pengamat dan komentator tapi mencetak para aktor. Tidak untuk menghasilkan mahasiswa narsis tapi seorang aktivis.

Pada titik inilah peran instruktur menjadi tak lagi sederhana. Selain harus memiliki kerangka teoritis yang kuat, ia juga harus memiliki kemampuan untuk merangkai kata dan membangun suasana.

Instruktur bukan semata orator tapi ia harus punya kemampuan mengikat dan menginspirasi massa dengan kata. Instruktur bukanlah semata dosen tapi ia harus mempunyai kemampuan teaching yang mencukupi. Instruktur bukanlah semata seorang sastrawan, tapi ia harus mampu mendramatisir sebuah persoalan.

Instruktur itu kamu, iyaaa kamuuuu…. (sambil kedip mata).

 

Ditulis sebagai bacaan ringan, oleh Mekel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s